Selasa, 21 Mei 2013

air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal



air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal


Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak--perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.

Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.


Pergi Haji

Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.

Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, "Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.

Islam agama terakhir dan pelengkap



                                             Islam agama terakhir dan pelengkap


Nama lengkap saya Adrie Oral Lolowang, saya dipanggil Adrie tetapi lebih banyak orang memanggil saya Oral karena nama tersebut adalah nama kesayangan. Saya dilahirkan di Tompasa Baru, sebuah desa di daerah kabupaten Minahasa Selatan - Manado - Sulawasi Utara pada tanggal 5 -10-1972. Saya lahir dari keluarga Pendeta atau keluarga Pelayan Rumah Tuhan yang sering disebut Keluarga Lewi, ka-rena bapak saya pendeta, kakek saya pendeta dan buyut saya-pun Pendeta.

Setamat SMA th. 1991, saya melanjutkan belajar di Sekolah Alkitab di kota Malang- Jawa Timur, dan setelah tamat dari Sekolah Alkitab saya langsung ditugaskan di daerah Cileungsi sebagai Pengerja atau Pembantu Pendeta. Selama bertugas di Cileungsi, saya tinggal di Kenari Mas hingga saat ini. Pada tahun 1997 saya melanjutkan belajar ke Sekolah Alkitab di Cianjur-Jawa Barat., Pada tahun 2003, saya melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah tinggi Theologia di Jakarta untuk mendapatkan kesarjanaan dibidang theologi - S1/Sth- namun tidak sampai selesai. Pada tahun 2005 saya kembali melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Theologia di Lampung cabang Bekasi.

Pada tahun 1995 saya menjadi Pengajar Pendidikan Agama Kristen di SMA Negeri 1 - Cileungsi dan telah mengikuti Penataran Guru-Guru Agama Kristen tingkat Propinsi sebanyak tiga periode yaitu pada tahun 1995, 1999 dan 2003 yang dilaksanakan oleh Bimas Kristen Jawa Barat, dan berhenti menjadi penga-jar setelah memeluk agama Islam. Setelah menjadi guru honorer selama 10 tahun, seharusnya pada tahun 2006 ini, saya akan mengikuti pengangkatan PNS sebagai guru agama Krsiten tetapi batal karena memeluk agama Islam.

Pada tahun 2003, saya dipercaya memimpin Badan Kerja Sama Gereja yaitu gereja-gereja di tingkat Kecamatan sebagai Sekretaris untuk periode 2003-2007, namun pada tahun 2004 saya memutuskan untuk tidak aktif dalam Badan Kerja Sama Gereja tersebut. Jabatan terakhir saya adalah sebagai Gembala atau Pimpinan salah satu Jemaat sebuah Gereja dan berhenti setelah memeluk agama Islam.
Islam agama terakhir dan pelengkap

Selama dua sampai tiga tahun saya memendam dan mengubur gejolak dan pemberontakan dalam batin saya, saya merasakan bahwa pemahaman yang saya dapatkan dalam agama Kristen, sepertinya harus ada sesuatu yang melengkapi semua yang aku yakini. Semakin menyelidik kebenaran tentang Alkitab dalam pelajaran Theologia semakin saya mendapatkan kemungkinan kekeliruan dalam Alkitab. Semakin saya belajar tentang Alkitab semakin saya mendapati Islam agama yang dapat menyempurnakan keyakinan yang selama ini saya pelajari dalam Perbandingan agama.

Dan akhir dari semua gejolak dan pemberontakan yang ada dalam batin saya adalah saya menyadari dengan sendirinya bahwa saya merasa yakin dan menyimpulkan Islam sebagai Agama Terakhir dan Agama Penyempurna.

Namun, apakah lantas saya langsung memutuskan untuk memeluk Islam dan meniggalkan agama kebanggaan saya, bapak saya, kakek saya dan buyut saya ?

Itu tidak mungkin…….

Kata hati kecil saya : ‘Lihatlah jabatanmu dan lihatlah keluargamu, yang telah memberikan kecukupan dan kebanggaan hidup selama ini, apakah kamu akan meninggalkan semua itu untuk memeluk agama Islam ? Apakah Islam dapat mengganti pekerjaan dan jabatan untuk masa depan kamu ?’

Betul apa kata hati kecil saya, apakah setelah memeluk Islam saya dapat memperoleh kecukupan hidup atau bahkan kebanggaan, apakah saya bisa mendapatkan pekerjaan setelah saya masuk Islam, atau siapkah saya mengambil semua resiko yang mungkin terjadi karena memutuskan untuk masuk Islam ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bergejolak, melahirkan keraguan dan pemberontakan dalam batin saya, walaupun saya telah mengetahui kebenaran Islam, tetapi, saya tidak berani mengambil resiko untuk keluar dari Kristen dan melepaskan apa yang telah saya dapat selama ini.

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi saya mulai melakukan perlawanan dan pemberontakan yang sebetulnya tidak perlu, mulai dari melawan pimpinan gereja yang menurut saya beliau keliru dalam mengambil kebijakan hingga pemberontakan yang saya lakukan dalam keluarga, misalnya saya sering tidak di rumah hingga berbulan-bulan hanya untuk menyembunyikan gejolak kebenaran dalam batin dan saya sering melakukan hal yang tidak baik, misalnya saya pernah mendekati seorang perempuan muslim yang tidak mungkin akan diterima oleh Gereja karena jabatan Pendeta dan Guru Agama. Kristen tidak bisa dikotori dengan pergaulan dengan wanita yang bukan istrinya. Saya sering mengambil barang milik keluarga sebagai pelampiasan ketidak puasan dalam beberapa hal yang saya temui dalam keluarga saya.

Namun, saya masih tetap melakukan tugas sebagai Pendeta dan Guru Agama seperti sebelumnya, dan apa yang saya lakukan pasti semua itu dapat dikatakan penuh dengan kemunafikan. Hingga pada akhirnya, sebagai Pimpinan Jemaat dan seorang guru, saya mulai melakukan hal-hal yang tidak benar karena saya mulai ragu terhadap apa yang selama ini saya yakini dan tidak dapat menyembunyikan sikap keraguan saya tersebut.

Keputusan masuk Islam

Jumat 18-11-2005 sekitar jam 15.00 WIB, seusai mengajar Pendidikan Agama Kristen dan mengarahkan Panitia Natal Pelajar Kristen 2005 yang saya pimpin, dengan pikiran dan batin berkecamuk, yang seharusnya selesai tugas itu saya langsung pulang ke rumah, tetapi saya justru berbalik arah untuk mencari masjid dan seorang ustadz atau kiai yang bisa memberi jawaban terhadap apa yang saya cari selama ini dan setidaknya mengislamkan saya.

Sampai di sebuah masjid, saya masuk lihat kanan-kiri sambil menunggu orang yang bisa saya temui untuk menyelesaikan pergolakan hidup ini. Ternyata sudah hampir 2 jam saya di masjid itu, tidak ada seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira bisa memberi petunjuk bagi saya. Lalau saya memutuskan keluar dari masjid tersebut untuk mencari masjid yang lain dengan harapan dapat menjumpai seseorang yang dapat memberi petunjuk kepada saya.

Tidak terlalu lama akhirnya nampak menara masjid yang tingi, maka langsung saya langkahkan kaki menuju masjid tersebut dan melakukan hal sama seperti pada masjid yang pertama, yaitu tengok kanan-kiri sambil menunggu seseorang yang dapat diharapkan bisa memberikan petunjuk atas permasalahan yang saya alami. Rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan saya untuk mendapatkan jawaban kebenaran, karena hingga beberapa jam tidak seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira bisa memberikan petunjuk bagi saya.

Karena tidak mungkin saya terus menunggu, maka saya coba menuju ke warung samping Masjid dan memberanikan diri bertanya kapada penunggu warung tersebut apakah ada kiai atau ustadz di sekitar masjid ini.

Tetapi, rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan usaha saya, karena ternyata penunggu warung tersebut baru sebulan bekerja di tempat itu sehingga tidak dapat memberikan jawaban seperti yang saya inginkan, bahkan nama daerah tempat dia tinggalpun tidak tahu.

Akhirnya, saya teringat bahwa di depan jalan ada plang sebuah yayasan dan terdapat nomor Telepon Yayasan Pengobatan. Karena yayasan tersebut berada dekat dengan masjid, pikir saya, tentulah orang yang ada dalam yayasan tersebut mengetahui ada tidaknya kiai atau ustadz di sekitar masjid tersebut. Maka saya beranikan untuk menelpon yayasan tersebut dan langsung menanyakan tanpa basa-basi apakah ada kiai atau ustadz yang dapat membimbing saya untuk masuk Islam.

Dari seberang telepon yang saya hubungi memberi jawaban bahwa kebetulan pemilik yayasan itu sudah biasa meng-Islam-kan orang. Akhirnya dengan diantar oleh penerima telepon tadi, saya menemui pimpinan yayasan itu untuk mau meng-Islam-kan saya. Kata hati saya, untuk sementara saya akan merahasiakan ke-Islam-an kepada orang lain, cukup diri saya telah meyakini Islam.

Rupanya Allah SWT masih memperpanjang tekad saya untuk sampai kepada Islam, karena ternyata, setelah saya kemukakan keinginan saya, pimpinan Yayasan tidak langsung mau menerima niat baik saya, padahal menurut prasangka saya dan mungkin juga menurut prasangka kebanyakan orang, saya akan langsung diterima dengan sambutan hangat bagai orang yang baru lahir bahkan seperti raja baru yang dihormati dan dihargai, tetapi justru tidak.

Mereka mengintrogasi saya seperti seorang tersangka, bertanya tentang indentitas, latar belakang dan banyak hal tentang saya secara detil dan teliti, mereka tidak langsung meng-Islam-kan saya seperti yang saya harapkan, tetapi mereka mempersilahkan saya untuk datang kembali besok hari untuk di-Islam-kan.

Sabtu 19-11-2005 saya kembali ke tempat itu, dan karena saya belum di khitan, sebagai bagian dari jalan saya untuk memeluk agama Islam, hari itu juga saya dikhitan, dan pada hari Minggu 20-11-2005 jam 18.30 WIB saya dibimbing membaca dua kalimat syahadat dan sekaligus memakai nama Islam Muhammad Syawaludin.

Sampai kisah ini ditulis, pihak gereja telah mengetahui ke-Islam-an saya, saya masih tinggal di gereja bersama istri yang juga pimpinan jemaat, tentu saja saya tidak bisa selamanya tinggal di dalam gereja, karena geraja tersebut adalah rumah dinas saya dari ke-gereja-an dan gereja hanya diperuntukkan bagi orang-orang Kristen, dan saya harus siap terusir dari gereja tersebut yang berarti saya akan terpisah dengan keluarga saya untuk menempuh jalan yang lain yaitu jalan menuju keselamatan dunia-akhirat.

Doa dan dukungan dari saudara-saudaraku sesama muslim, sangat saya harapkan, agar saya tegar berada di jalan Islam hingga matiku. ( al-islah )
Untuk Bapak Syawaludin yang dikasihi Allah SWT….,
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam



Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam


Ternyata gambaran Islam yang dipublikasikan oleh media-media Barat, jauh berbeda sama sekali dari realitas Islam sebenarnya. Setidaknya hal itu diperlihat kan oleh sejumlah prajurit laki-laki dan wanita AS yang bertugas di Irak, ketika mereka menyatakan diri masuk Islam. Lalu mereka menikah dengan orang-orang Islam Irak. Walaupun pernikahan itu ditentang oleh sejumlah warga setempat.

“Para tentara AS itu telah menyadari bahwa ajaran Islam sama sekali berbeda dengan informasi-informasi yang diprogandakan oleh media-media Barat,” lanjut Sheikh Mahmoud.

“Setelah bergaul setiap hari dengan warga Irak serta pengalaman berinteraksi dengan kalangan Muslim dari dekat di negeri yang terkoyak perang ini, banyak serdadu AS yang menyatakan keinginannya masuk Islam,” ujar Sheikh Mahmoud el-Samydaei, anggota Majelis Ulama Islam Irak, pada IslamOnline Rabu (13/8/2003).

Ulama Islam itu mengingatkan kembali para perwira AS yang telah masuk Islam agar memelihara agama itu sampai akhir hayat. Sebab orang yang mati tanpa membawa Islam, ujar Sheikh Mahmoud, matinya akan sia-sia. Para muallaf AS itu mendengarkan wejangan tersebut dengan terisak-isak, mengingat banyak masyarakatnya mati tanpa mengetahui sedikitpun tentang Islam.

Seorang perwira AS yang mendatangi Pengadilan Urusan Sipil di distrik el-Karkh, Baghdad pekan ini menyatakan; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusanNya.”

Perwira AS itu kemudian menikah dengan wanita Irak, dr. Samar Ahmed yang pernah dijumpainya ketika dia bertugas menjaga Medicine City Hospital. Dia memilih Islam, kata perwira AS itu, lantaran keyakinannya yang penuh terhadap kebenaran Islam. “Saya masuk Islam bukan hanya lantaran untuk menikahi wanita Irak,” tukasnya.
Berdasarkan ajaran Islam, seorang pria non-Muslim dilarang menikahi seorang wanita Islam.

Hakim Agama Abd el-Azeim Mohammad Gawad el-Rasafi merestui pernikahan itu. Abd el-Azeim menegaskan bahwa pernikahan itu merupakan peristiwa pertama, seorang wanita Irak menikah dengan serdadu AS yang masuk Islam. Kepada IslamOnline Abd el-Azeim mengatakan, tak satupun agama di dunia, menghalangi pernikahan tersebut. Walaupun begitu sejumlah warga Irak menentang pernikahan antar etnis itu

Sulit Memahami Doktrin Trinitas



                                   Sulit Memahami Doktrin Trinitas

Meski dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa yang secara turun-temurun menganut agama Budha, tetapi saya tidak mendalami ajaran agama nenek moyang kami itu. Saya justru lebih paham ajaran gereja. Hal ini bisa dimaklumi, karena masyarakat keturunan Tionghoa sekarang lebih banyak yang meninggalkan agama nenek moyangnya, dan lebih memilih agama Kristen sebagai pegangan hidupnya. Alasannya, karena agama Kristen dianggap lebih ringan pelaksanaan ibadahnya.

Faktor itu pula yang menyebabkan saya lebih banyak bergaul dengan kawan-kawan yang beragama Kristen, baik yang Katolik Roma, Protestan, Pantekosta, Advent, dan sebagainya. Selain itu, faktor pendidikan formal juga sangat mempengaruhi keimanan saya. Saya semakin jauh dari wihara dan klenteng (rumah ibadah orang Tionghoa).

Pendidikan formal saya, sejak TK sampai SMA, saya ialui di lembaga pendidikan Katolik. Sampai usia remaja, meski saya tak pernah dibaptis, tetapi saya sudah merasa sebagai umat Kristen (Katolik) daripada sebagai jemaat wihara (umat Budha).

Saya dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1969 di Semarang, Jawa Tengah. Keluarga saya keturunan Tionghoa yang sukses sebagai pengusaha foto dan percetakan. Seperti umumnya masyarakat keturunan Tionghoa, kedua orang tua saya memeluk agama nenek moyang yang telah dianut turun temurun, yakni agama Budha.

Tidak berbeda dengan keluarga Tionghoa yang lain, dalam hal pendidikan agarna, keluarga saya juga tidak pernah menanamkan keimanan (agama Budha) yang mendalam. lni barangkali sekadar tradisi saja bahwa nenek moyang kami mewariskan kebudayaannya itu kepada keturunannya. Dalam ajaran agama Budha sepertinya tidak ada norma-norma khusus yang mengatur pelaksanaan ibadah. Ya, seperti aliran kepercayaan saja. Sehingga, tidak sedikit orang Tionghoa yang notabene pemeluk agama Budha, tetapi masih meyakini ajaran lain sebagai agamanya, umumnya agama Kristen.

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, kedua orang tua kami mengharapkan agar saya berhasil dalam hidup dan menjadi teladan bagi kedua adik saya. Sebab itulah, ketika mengijak usia 5 tahun saya dimasukkan ke Taman Kanak Kanak favorit di kota Semarang, yakni TK Kanisius Kebondalem, selama dua tahun. SD dan SMP pun saya tempuh di lembaga yang sama.
Aktivis Gereja

Stammat SMP saya pun melanjutkan studi di SMA Katolik Kebondalem. Lembaga pendidikan ini termasuk paling dibanjiri peminat. Jadi, merupakan gengsi tersendiri bila diterima di sekolah itu. Saat belajar di SMA itulah saya benar-benar menjadi umat Katolik. Bukan lagi sebagai pemeluk Budha.

Kegiatan-kegiatan gereja, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat selalu saya ikuti dengan tekun. Saya tidak peduli, walaupun tidak pernah dibaptis. Bahkan, di sekolah sava termasuk siswa yang aktif mengikuti kegiatan keagamaan, baik di OSIS (seperti peringatan hari besar agama Kristen) dan juga kegiatan misa di gereja atau kapel sekolah yang rutin diadakan seminggu sekali.

Rupanya, Tuhan berkenan menolong saya dari jalan yang sesat. Beberapa tahun yang lalu setelah saya tamat SMA, saga sering merenung tentang ajaran trinitas yang menjadi landasan pokok iman kristiani. Sava merasa sulit memahami ajaran itu. Teryata banyak sekali kejanggalan yang saya temukan.
Mempelajari Islam

Tuhan Yang Maha Agung membuka pintu hati saya. Di saat saya meragukan kebenaran ajaran trinitas itu, saya seperti ditunjukkan untuk mempelajari Islam sebagai perbandingan. Dan ternyata, masya Allah, luar biasa. Dalam Al-Qur'an dan hadits telah diatur hukum bagi sekalian alam yang benar adanya.

Tidak lama setelah mendalami kandungan Al-Qur'an, saya secara rutin belajar agama (Islam) pada seorang guru ngaji. Masih berstatus sebagai mahasiswa STIE-PPMTT (Pusat Pendidikan Manajemen dan Teknik Terapan), saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahdat beserta seluruh keluarga.

Alhamdulillah, salah satu adik saya, Jip Christianto Jana P, telah tamat dari Pondok Pesantren Modem Gontor, jawa Timur, dan kini kuliah di Akademi Perindustrian Yogyakarta Jurusan Teknik Mesin. Sedangkan adik saya yang bungsu, Jip Rudi Jana P., kini rnasih belajar di Pondok Pesantren as-Salam Surakarta.

Sedangkan, saya sendiri setelah menamatkan pendidikan manajemen dan meraih gelar Master of Bussines Administration (M.B.A.), kini berwiraswasta di bidang percetakan. Harapan saya, semoga keluarga kami senantiasa diterangi petunjuk-Nya.
Aminn

Meski Paus VATIKAN Lecehkan Islam, 3220 Umat Kristiani KENYA Nyatakan Masuk Islam!!



Meski Paus VATIKAN Lecehkan Islam, 3220 Umat Kristiani KENYA Nyatakan Masuk Islam!!
Sekalipun berbagai pelecehan diarahkan pemimpin spitual Vatikan, Benediktus XVI baru-baru ini terhadap Islam, namun realitasnya, umatnya sendiri menganggap kosong ucapannya tersebut dan mereka dengan berbondong-bondong malah memeluk agama Islam.!!

Kenyatan pahit bagi sang paus tersebut terjadi di KENYA di mana sekitar 3220 penganut Kristen masuk Islam di tangan para Da’i jebolan fakultas Syari’ah dan Dirasat Islamiah yang dikelola oleh Lembaga Muslim Afrika.

Seperti yang dilansir kantor berita Islam, para ‘muallaf’ tersebut sebelumnya mengikuti training pengajaran agama Islam yang diadakan di kawasan timur Kenya, kawasan pantai dan kawasan tengah dan barat.

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kota Rafha, sebelah utara Kerajaan Arab Saudi, sekitar 143 orang menyatakan masuk Islam. Keislaman para muallaf yang terdiri dari berbagai kewarganegaraan itu dimeriahkan dengan sebuah pesta kehormatan untuk mereka. Mereka masuk Islam sepanjang tahun lalu. Di kota itu sendiri, sepanjang 4 tahun yang lalu telah masuk Islam sekitar 413 orang dari berbagai kewarganegaraan.

Yang lebih pantastis lagi adalah realitas yang terjadi di Mesir di mana disebutkan, perguruan tinggi Islam tertua, al-Azhar asy-Syarif setiap harinya menerima puluhan orang yang menyatakan masuk Islam dari berbagai kewarganegaraan. Mereka telah rela menjadikan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai Rasul.

Para pemeluk Islam baru tersebut menegaskan, di bawah naungan Islam mereka baru menemukan agama yang sesuai dengan tuntutan fitrah yang suci dan akal sehat. Islam-lah sesungguhnya agama perdamaian itu.!!

Seperti diketahui, pemimpin Vatikan telah menukil ucapan-ucapan pemimpin imperium Byzantium yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang tidak datang ke dunia ini selain sebagai orang ‘jahat’ dan tidak manusiawi. Statement yang disampaikan di hadapan jema’at ini tak ayal menimbulkan ketersinggungan umat Islam di seantero dunia. Mereka menuntut paus untuk meminta ma’af secara terang-terangan sebelum mengajak berdialog. Hingga kini, polemik ini masih terus terjadi di mana sang paus kembali menunjukkan kesombongannya untuk tidak mau meminta ma’af bahkan menuding ada pihak yang telah memelintir ucapannya.!!??