Islam agama terakhir dan pelengkap
Nama lengkap saya Adrie Oral Lolowang, saya dipanggil Adrie tetapi lebih banyak
orang memanggil saya Oral karena nama tersebut adalah nama kesayangan. Saya
dilahirkan di Tompasa Baru, sebuah desa di daerah kabupaten Minahasa Selatan -
Manado - Sulawasi Utara pada tanggal 5 -10-1972. Saya lahir dari keluarga
Pendeta atau keluarga Pelayan Rumah Tuhan yang sering disebut Keluarga Lewi,
ka-rena bapak saya pendeta, kakek saya pendeta dan buyut saya-pun Pendeta.
Setamat SMA th. 1991, saya melanjutkan belajar di Sekolah Alkitab di kota
Malang- Jawa Timur, dan setelah tamat dari Sekolah Alkitab saya langsung
ditugaskan di daerah Cileungsi sebagai Pengerja atau Pembantu Pendeta. Selama
bertugas di Cileungsi, saya tinggal di Kenari Mas hingga saat ini. Pada tahun
1997 saya melanjutkan belajar ke Sekolah Alkitab di Cianjur-Jawa Barat., Pada
tahun 2003, saya melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah tinggi Theologia
di Jakarta untuk mendapatkan kesarjanaan dibidang theologi - S1/Sth- namun
tidak sampai selesai. Pada tahun 2005 saya kembali melanjutkan pendidikan
tinggi di Sekolah Tinggi Theologia di Lampung cabang Bekasi.
Pada tahun 1995 saya menjadi Pengajar Pendidikan Agama Kristen di SMA Negeri 1
- Cileungsi dan telah mengikuti Penataran Guru-Guru Agama Kristen tingkat
Propinsi sebanyak tiga periode yaitu pada tahun 1995, 1999 dan 2003 yang
dilaksanakan oleh Bimas Kristen Jawa Barat, dan berhenti menjadi penga-jar
setelah memeluk agama Islam. Setelah menjadi guru honorer selama 10 tahun,
seharusnya pada tahun 2006 ini, saya akan mengikuti pengangkatan PNS sebagai
guru agama Krsiten tetapi batal karena memeluk agama Islam.
Pada tahun 2003, saya dipercaya memimpin Badan Kerja Sama Gereja yaitu
gereja-gereja di tingkat Kecamatan sebagai Sekretaris untuk periode 2003-2007,
namun pada tahun 2004 saya memutuskan untuk tidak aktif dalam Badan Kerja Sama
Gereja tersebut. Jabatan terakhir saya adalah sebagai Gembala atau Pimpinan
salah satu Jemaat sebuah Gereja dan berhenti setelah memeluk agama Islam.
Islam agama terakhir dan pelengkap
Selama dua sampai tiga tahun saya memendam dan mengubur gejolak dan
pemberontakan dalam batin saya, saya merasakan bahwa pemahaman yang saya
dapatkan dalam agama Kristen, sepertinya harus ada sesuatu yang melengkapi
semua yang aku yakini. Semakin menyelidik kebenaran tentang Alkitab dalam
pelajaran Theologia semakin saya mendapatkan kemungkinan kekeliruan dalam
Alkitab. Semakin saya belajar tentang Alkitab semakin saya mendapati Islam
agama yang dapat menyempurnakan keyakinan yang selama ini saya pelajari dalam
Perbandingan agama.
Dan akhir dari semua gejolak dan pemberontakan yang ada dalam batin saya adalah
saya menyadari dengan sendirinya bahwa saya merasa yakin dan menyimpulkan Islam
sebagai Agama Terakhir dan Agama Penyempurna.
Namun, apakah lantas saya langsung memutuskan untuk memeluk Islam dan
meniggalkan agama kebanggaan saya, bapak saya, kakek saya dan buyut saya ?
Itu tidak mungkin…….
Kata hati kecil saya : ‘Lihatlah jabatanmu dan lihatlah keluargamu, yang telah
memberikan kecukupan dan kebanggaan hidup selama ini, apakah kamu akan
meninggalkan semua itu untuk memeluk agama Islam ? Apakah Islam dapat mengganti
pekerjaan dan jabatan untuk masa depan kamu ?’
Betul apa kata hati kecil saya, apakah setelah memeluk Islam saya dapat
memperoleh kecukupan hidup atau bahkan kebanggaan, apakah saya bisa mendapatkan
pekerjaan setelah saya masuk Islam, atau siapkah saya mengambil semua resiko
yang mungkin terjadi karena memutuskan untuk masuk Islam ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus bergejolak, melahirkan keraguan dan
pemberontakan dalam batin saya, walaupun saya telah mengetahui kebenaran Islam,
tetapi, saya tidak berani mengambil resiko untuk keluar dari Kristen dan
melepaskan apa yang telah saya dapat selama ini.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi saya mulai melakukan
perlawanan dan pemberontakan yang sebetulnya tidak perlu, mulai dari melawan
pimpinan gereja yang menurut saya beliau keliru dalam mengambil kebijakan
hingga pemberontakan yang saya lakukan dalam keluarga, misalnya saya sering
tidak di rumah hingga berbulan-bulan hanya untuk menyembunyikan gejolak
kebenaran dalam batin dan saya sering melakukan hal yang tidak baik, misalnya
saya pernah mendekati seorang perempuan muslim yang tidak mungkin akan diterima
oleh Gereja karena jabatan Pendeta dan Guru Agama. Kristen tidak bisa dikotori
dengan pergaulan dengan wanita yang bukan istrinya. Saya sering mengambil
barang milik keluarga sebagai pelampiasan ketidak puasan dalam beberapa hal
yang saya temui dalam keluarga saya.
Namun, saya masih tetap melakukan tugas sebagai Pendeta dan Guru Agama seperti
sebelumnya, dan apa yang saya lakukan pasti semua itu dapat dikatakan penuh
dengan kemunafikan. Hingga pada akhirnya, sebagai Pimpinan Jemaat dan seorang
guru, saya mulai melakukan hal-hal yang tidak benar karena saya mulai ragu
terhadap apa yang selama ini saya yakini dan tidak dapat menyembunyikan sikap
keraguan saya tersebut.
Keputusan masuk Islam
Jumat 18-11-2005 sekitar jam 15.00 WIB, seusai mengajar Pendidikan Agama
Kristen dan mengarahkan Panitia Natal Pelajar Kristen 2005 yang saya pimpin,
dengan pikiran dan batin berkecamuk, yang seharusnya selesai tugas itu saya
langsung pulang ke rumah, tetapi saya justru berbalik arah untuk mencari masjid
dan seorang ustadz atau kiai yang bisa memberi jawaban terhadap apa yang saya
cari selama ini dan setidaknya mengislamkan saya.
Sampai di sebuah masjid, saya masuk lihat kanan-kiri sambil menunggu orang yang
bisa saya temui untuk menyelesaikan pergolakan hidup ini. Ternyata sudah hampir
2 jam saya di masjid itu, tidak ada seorangpun yang saya jumpai yang kira-kira
bisa memberi petunjuk bagi saya. Lalau saya memutuskan keluar dari masjid
tersebut untuk mencari masjid yang lain dengan harapan dapat menjumpai
seseorang yang dapat memberi petunjuk kepada saya.
Tidak terlalu lama akhirnya nampak menara masjid yang tingi, maka langsung saya
langkahkan kaki menuju masjid tersebut dan melakukan hal sama seperti pada
masjid yang pertama, yaitu tengok kanan-kiri sambil menunggu seseorang yang
dapat diharapkan bisa memberikan petunjuk atas permasalahan yang saya alami.
Rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan saya untuk mendapatkan jawaban
kebenaran, karena hingga beberapa jam tidak seorangpun yang saya jumpai yang
kira-kira bisa memberikan petunjuk bagi saya.
Karena tidak mungkin saya terus menunggu, maka saya coba menuju ke warung
samping Masjid dan memberanikan diri bertanya kapada penunggu warung tersebut
apakah ada kiai atau ustadz di sekitar masjid ini.
Tetapi, rupanya Allah SWT masih memperpanjang jalan usaha saya, karena ternyata
penunggu warung tersebut baru sebulan bekerja di tempat itu sehingga tidak
dapat memberikan jawaban seperti yang saya inginkan, bahkan nama daerah tempat
dia tinggalpun tidak tahu.
Akhirnya, saya teringat bahwa di depan jalan ada plang sebuah yayasan dan
terdapat nomor Telepon Yayasan Pengobatan. Karena yayasan tersebut berada dekat
dengan masjid, pikir saya, tentulah orang yang ada dalam yayasan tersebut
mengetahui ada tidaknya kiai atau ustadz di sekitar masjid tersebut. Maka saya
beranikan untuk menelpon yayasan tersebut dan langsung menanyakan tanpa
basa-basi apakah ada kiai atau ustadz yang dapat membimbing saya untuk masuk
Islam.
Dari seberang telepon yang saya hubungi memberi jawaban bahwa kebetulan pemilik
yayasan itu sudah biasa meng-Islam-kan orang. Akhirnya dengan diantar oleh
penerima telepon tadi, saya menemui pimpinan yayasan itu untuk mau
meng-Islam-kan saya. Kata hati saya, untuk sementara saya akan merahasiakan
ke-Islam-an kepada orang lain, cukup diri saya telah meyakini Islam.
Rupanya Allah SWT masih memperpanjang tekad saya untuk sampai kepada Islam,
karena ternyata, setelah saya kemukakan keinginan saya, pimpinan Yayasan tidak
langsung mau menerima niat baik saya, padahal menurut prasangka saya dan
mungkin juga menurut prasangka kebanyakan orang, saya akan langsung diterima
dengan sambutan hangat bagai orang yang baru lahir bahkan seperti raja baru
yang dihormati dan dihargai, tetapi justru tidak.
Mereka mengintrogasi saya seperti seorang tersangka, bertanya tentang
indentitas, latar belakang dan banyak hal tentang saya secara detil dan teliti,
mereka tidak langsung meng-Islam-kan saya seperti yang saya harapkan, tetapi
mereka mempersilahkan saya untuk datang kembali besok hari untuk di-Islam-kan.
Sabtu 19-11-2005 saya kembali ke tempat itu, dan karena saya belum di khitan,
sebagai bagian dari jalan saya untuk memeluk agama Islam, hari itu juga saya
dikhitan, dan pada hari Minggu 20-11-2005 jam 18.30 WIB saya dibimbing membaca
dua kalimat syahadat dan sekaligus memakai nama Islam Muhammad Syawaludin.
Sampai kisah ini ditulis, pihak gereja telah mengetahui ke-Islam-an saya, saya
masih tinggal di gereja bersama istri yang juga pimpinan jemaat, tentu saja
saya tidak bisa selamanya tinggal di dalam gereja, karena geraja tersebut
adalah rumah dinas saya dari ke-gereja-an dan gereja hanya diperuntukkan bagi
orang-orang Kristen, dan saya harus siap terusir dari gereja tersebut yang
berarti saya akan terpisah dengan keluarga saya untuk menempuh jalan yang lain
yaitu jalan menuju keselamatan dunia-akhirat.
Doa dan dukungan dari saudara-saudaraku sesama muslim, sangat saya harapkan,
agar saya tegar berada di jalan Islam hingga matiku. ( al-islah )
Untuk Bapak Syawaludin yang dikasihi Allah SWT….,
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)